Wednesday, December 16, 2015

014. Well, 2015.

Bismillah.





Kekok rasa jari nak menaip kembali di ruangan berhabuk ini. Sementelah enam (6) bulan lamanya tidak 'menyentuh' ruangan ini (dengan asbab so-called ruang privasi leaked. heh), telah banyak perkara berlaku dalam timeframe yang sangat, Allah, sekejap.

Pasti, saya tidak akan melupakan tahun 2015;

tahun ke 25 Allah pinjamkan saya hidup di dunia ini.

Banyak perkara berlaku, banyaknya memberi pengajaran buat diri. Menginsafkan. Membuatkan saya TER-refleksi sejenak dengan kehidupan saya. What a reflection, like after 25 years of living. Is it worth it? Am I worth enough to live?

Banyak juga pengalaman yang sempat 'dikaut' sepanjang enam bulan ini. Bertukar usrah, mendaftarkan diri sebagai pelajar SEMULA, kembali 'menggauli' experiments dan laboratory, graduasi, berkenalan dengan sahabat-sahabat baru, pergi PTI, pergi galeri (thanks to Amal!) dan banyak lagi. Perlu telusuri setiap kotak tarikh di kalendar untuk sesi muhasabah dan throwback, Allah... How I wished I can sit for a while and list out everything on my mind.

Terpaling penting, saya mempelajari BANYAK  perkara tentang manusia dan sifat manusiawinya. Mungkin kerana hari-hari saya dihiasi kehadiran kelompok bernama manusia (well, who doesn't Anis?) 

Kalau diikutkan, mahu sahaja saya linger bersama sahabat se-kepala yang sudah memahami saya selepas 6 tahun berkawan. Mahu sahaja begitu.

Tetapi bila baca blog kak Umy tentang uniknya perspektif orang lain pada kita, Allah.. Saya sedar mereka adalah 'guru terbaik' untuk saya.

Especially those hard people. Bukan melabel, okaylah, hard-to-pleased people.

Oh, so much to share!
But none can be typed here. Mungkin kontang sangat idea. Perlu suburkan semula. Nourish. Nourish to grow!

Saya rindukan blog saya. Engraved every precious moments here. So that I can read them later, insyaAllah. Sometimes I do miss my old-me. I learnt so much being an Anis before. 

Mungkin kena kuat. Saya suka kata-kata yang Syahidah Sith letak kat ig dia,

"Syarat pertama untuk menang di alam nyata adalah dengan lebih dulu menang di alam ruh.."


Kena kuat dulu hubungan 'ruh'. Dengan Allah.
Suddenly I miss my qiyam jamai'e.


:'(


Yang mencari diri,

Anis
16122015






Friday, May 29, 2015

012. 27 Mei.

Bismillah.

So it was two days ago. There were  something happened that day.

(i)

My not-so-lil' bro turned 8-teen. It was 2355 hours when I got back home with a birthday "pie". 

It was not his birthday that fascinated me to scratch this. It was his wish that made me stumbled, and,

teary.

"Kak, boleh tak **Boy nak join I___M?"

:')

T___T


**nama timangan. hehs






(ii)

Tiada yang lebih indah dan mengharukan apabila seorang mutarabbi mendapatkan ini dari seorang murabbi...





Sungguh, aku seolah-olah tak bersedia untuk menghadapi masa depan.
Dengan beberapa situasi yang aku hadapi dan cabaran perasaan yang aku rasai lately, masyaAllah banyaknya dosa diri ku.

T_T

Tapi, kekuatan itu dari Allah semata.
Moga Allah kuatkan langkah, dan pandu hati ini.

Untuk kak Ainul yang senantiasa perchaya sekelumit potensi yang ada pada diri dan tak putus bagi harapan dan dorongan,

jazakillahu khair!

Kepada seluruh akhawat yang aku kenali (Kuantan ke Kajang ke, eh, mana-mana la! Hee..), untuk seluruh doa-doa tulus kalian, 

jazakumullahu khairan :)





hamba yang dhaif lagi hina, tapi teramat ingin keredhaanNya,

Anis,
USIMKL.

Wednesday, May 20, 2015

011. The Professor.

Bismillah.
***

And tadi, ada Journal Club, a so-called gathering of lecturers and postgraduate students to present a journal or manuscript that they reviewed or used in their research.

Then a Professor came to this lecturer, and told her that there were students waiting outside her room for consultation. Then the lecturer replied that she already asked that students to wait for her there.

The Professor replied, "Please respect other people's time even if it is not your time."

I was overwhelmed by her reply. She is one of my 'classmate' for Arabic class. 
I was overwhelmed because, though she has this "Prof." and "Datin" title, she was humble. And still respect student's time. Teary eyes.

The lecturer 'blushed'. 

Allah bless her, the Professor.
I will remember her 'significant' reply, forever.


anis
usimkl

p.s sorry for all mistakes that i have done, especially those that time-wise T_T

010. Of niyah dan tikus 'lab'.

Bismillah.

Semalam, saya berpeluang untuk menangkap, membius (fiuhh!), withdraw blood, dan akhirnya bunuh lupuskan secara beretika.

My first trial.

It was hard. Indeed. Especially the part when we need to catch him, to full stretch of his belly so that I can inject directly via intra-peritoneal (IP).

It was. Hard.

They were 3 rats altogether.  The first one was sooo hard that we used chloroform to 'pengsankan' dia. Then baru cucuk IP and we 'suck' out his blood, using syringe la.

My first trial was, how aware we (I am) are when we did all these things, to tajdid our niyah?

Then I realized that I am dealing with His creature, this furry creature, smaller than me obviously. Then why should I scared of?

Ok, lepas that stage. Then come to the next stage - to find the veins, and suck out ALL of his blood. Became Dracula for a while.

Then I was thinking (silently, to myself, so that my kakak won't heard that), can I just stabbed right to his heart? Can I stabbed in and out of his any veins to suck? Is it ethical?

You know all of these questions popped up WHILE doing these thing. I should have learnt, or at least remembered, but then everything vanished! I know all of them are common questions, we can use our sense to do that. But then again, to meet the objectives, to get the targetted results, we do have choices - to abide or to omit.

What makes it different? Yes, iman. 

Then while doing those sucking out blood thingy, the rat might be awake again. So we should be aware of his breathing pattern and actions. 

Next, comes the worst part. Bila kita nampak perut dia seakan-akan 'berombak', nafas macam laju dan perlahan at the same time. Macam orang nazak. But still kita kena draw darah dia untuk elak clotting. Then slowly dia akan berhenti bernafas. 

Sedih.

One thing yang buat terharu, kalau kita realize, sebelum tikus itu mati, malaikat maut pasti berhampiran kita. Di sekitar kita. Dengan dekatnya.

Allah.

What moves me to wrote in this entry, apart of the experience that I got yesterday, is to remind myself in the future, that we need to do everything with ihsan. 

Do everything, ethically.

Walaupun kita deal dengan haiwan, yang tak mampu nak marah kita balik kalau kita buat silap, tapi kita kena ingat, kita deal dengan makhluk Tuhan. Allah.

Kalau kita sesuka-hatian probe/stab sana sini, do we really a khalifah fil 'ard then?
Yang memakmurkan bumi dan seisinya.

I do not know whether this thing is acceptable and relevant to be discussed nowadays, but please people (and me, please Anis!) have mercy to other mankind and makhluqat.






Pentingnya untuk kita jaga niat sentiasa. 
Penting. Sangat penting.

Sebab kita tak tahu bila 'masa' kita 'sampai'.



Sekian, bebelan saya tentang tikus lab, masa, niat dan ;

ajal.



anis.
usimkl.


p.s terima kasih yang teramat untuk kak syahidah abdul jalil sebab sudi mengajak anis, dan berkongsi ilmu dengan anis. barakallahu fik.



Tuesday, May 12, 2015

009. "Bila soalan tu hakikatnya untuk muhasabah diri saya sendiri."

Bismillah.


Hujung minggu yang lalu, saya 'didatangi' dua soalan dari dua orang Hamba Allah yang saya sayangi, kerana Allah. 

Amazingly, dua-dua soalannya berbaur tema yang sama. 

Setelah puas membalas, baru saya perasan, soalan-soalan ini bagaikan muhasabah untuk diri saya sendiri. Jujur, saya tidaklah baik mana. Amal compang-camping. Perasaan pun terumbang-ambing. Tapi bila ada ukhti yang sudi bertanyakan soalan berbaur personal dan privasi sebegini, cukup untuk membuatkan saya diam sendiri, dan sibuk mengoreksi hati saya sendiri.

Jujur kali kedua, saya masih belum stabil sepenuhnya hal ini.

Bukan dua sahabat saya ini sahaja yang bertanyakan soalan ini, sebelumnya ramai lagi yang cuba ber-curhat, ber-musyawarah tentang perkara sebegini. Sehinggakan pernah terdetik di hati saya,

"Jika saya punya peluang untuk diberitahu pada kaum Adam, saya ingin sekali beritahu tentang kata-kata Kurniawan Gunadi seperti di Tumblr-nya,

"Lelaki, andai belum mampu memberi kepastian, jangan sesekali memberi harapan. Dan perempuan, andai belum menerima kepastian, jangan sesekali menyimpan harapan. Belajar mencintai dengan bijaksana. Sesuatu yang sering dilupakan oleh banyak manusia. Tidak gelabah dan terburu-buru, tidak terlalu menampilkan isi hati, pandai menyiasati perasaan, berhati-hati dalam berucap, pandai mengatur logika. Cinta tidak akan menjadi sebuah keindahan bila diikuti dengan laku yang tidak santun. Belajarlah untuk memperlakukan cinta kita kepada orang lain secara terhormat."

Malas untuk menaip kembali, berikut adalah antara 'suara hati' saya yang dicurahkan pada seorang ukhti;




i;



ii;




iii.

Apa yang saya pelajari dari 'kisah' saya sendiri, "Do not settle for anything less".  
Dan perempuan, please, jangan bagi harapan, boleh?

Lagi awak 'melayan', hakikatnya awak bagi dia harapan.
Walhal hati awak tak pernah terfikir yang serius pun tentang dia.

Menjauhlah.
You have nothing to lose.

--------------------------------------------------------------------------------------
istafti qalbak!

Tuesday, May 5, 2015

008. My new friend.

Bismillah.


I once told my younger sister that I would love to have friends from various races - at least Chinese or Indians, you know they are Malaysian too.

There are few on my friend list on FB, my previous primary school's classmates whom might already forgot me but hey, they are not!

I have few Indian classmates during my highschool days in KUSESS, but we were disconnected after SPM. Hurm, my bad.

No way for me to get to know other races since I entered IIUM which most of them are Muslims, Malays and few International students. Minus the Arabs and Afrikaans. They are nice though. But I wanted to get to know this other populations of Malaysia.

So I told my sis how grateful she is now, her PBL groupmates consists of this Malaysia-Truly-Asian people. She got Chinese buddies, Indian lab partner (whom are goshhh, gentleman?). Me myself has not any. I interact with Malays most of the time. So she told me that yeahhh I am not going to be friend with any of them which is a lacking part of being IIUM.

Wuisy, dahsyat.

However, things changed. 
Allah loves me (us) a lot.
He surely will grant any of [good] deeds that might helped us in any ways possible.

So I entered USIM, and got to know this one Indian lady that entered the same day as me. We both signed up for Research Assistant position there, with different supervisors. 

Of all places in this world, Allah made it harmoniously possible for me to have multi-cultural friends, at USIM?
What is so different between IIUM and USIM, only Allah knows.
I called her R. She is a very good friend indeed [up to this moment].

I went to eat at mamak with her.
She accompanied me to go to Celcom Centre at the heart of KL together via LRT and that is enough for me.
We talked about our unique races [well, most of the time she shares her beautiful culture since mine is too maintream la kan].
I taught her simple Jawi alphabets [because students here are compulsory to learn Arabic and tajweed] so that she got ideas on how Jawi works. 
She scratched my name in Tamil too. Haha!

Sometimes, she does asked me on several things about Islam that attracts her to know lot more. 
And this morning, when just arrived at the Postgraduate Room, with hiccups and all, she showed us [me and Farhana] this for us to read.



Which made me "Oh...".







She initially wanted to PM-ed us for this. 
Subhanallah...
It really touched my heart. And am posting this so that I will remembered her and this info in the future :')

She really cared about my prayer. During our 'short trip' to Jalan Ampang for Celcom thingy, she did asked me whether I can solat on time [because we went there during our lunch break].
You know, my Muslim friends has never asked me this [perhaps because they are praying too la kann].
Because all of us are praying in one of the lab, the EEG lab here [because surau is 4 levels down, alasan much] and she is the one who stays there to read on journals, so she will make sure she silent everything. Eh baik lah.

About the excerpt above, she reminds us to stay focus in our salah, understand the meaning behind every recitation. 
Gilalah,  memang DF terus habis. 



Morale: yes, we are being tarbiyyah all the time. tinggal nak tengok dengan mata hati atau tak je. signs are everywhere. sweet kan Allah?
:')



anis.
usimkl.

Monday, May 4, 2015

007. Disconnect to connect (i)

Bismillah.

Alhamdulillah, berkesempatan ke Pusat Asasi UIAM di Petaling Jaya, hari Jumaat lepas.
Waktu mula-mula hadek-hadek mengumumkan program mereka di CFS di satu group Whatsapp, saya tersenyum sendiri. Tersenyum sebab rasa macam nak join jeee, tapi takpelah takkan nak tanya sendiri. I is malu (ceh).

Lagi terharu bila orang sebut FSCC :')

Dan si Pengarah Program macam dapat rasa resonance hati saya hantar, dan dia pun jemput. Alhamdulillah. 
Untuk melawat, menziarahi CFS PJ tanpa sebab macam susah nak cari masa. Nak cari sebab pun satu hal, tapi insyaAllah bila kaki melangkah masuk gate je, pasti sebab tu datang berjela.

:)

Seperti biasa kalau jejak kaki di PJ pasti seribu satu gambar ter-throwback di fikiran. Tengok tempat ni, teringat ini. Tengok tempat tu, teringat itu. Disebabkan kawasan kampus PJ itu kecil sahaja, maka semuaaaa tempat punya 'adegan' tersendiri. 

Hmm :)

Tiada apa yang baharu. Melainkan mahallah Khadijah (KC) 'swap' dengan mahallah Abu Bakr (ABC). Hal ini macam hmmm, menghairankan. Dan saya tak dapat bayangkan macam mana gamaknya kalau terjadi pada zaman saya. Whoa! Nak bertukar mahallah dengan mahallah lelaki yang famous -lah sangat tu, peh! Tak terbayang rasanya. 

Cam chomel je ;p

Se-sampai dan pergi terus ke bahagian musolla. Bertukar-tukar pendapat dengan akhawat tentang isi penyampaian dan seterusnya menyampaikan apa yang perlu, terasa ruhiy bersama akhawat UIAM. Dah lama tak berprogram bersama mereka, dengan hadek-hadek qowiy. Dan melihat wajah-wajah innocent adik-adik PJ, saya terharu sendiri. Teringat dahulu kala tatkala mula-mula 'disapa' T, di kampus PJ. Pada mulanya sekadar mengikuti program anjuran kakak-kakak Gombak, yang istiqomah datang dan DF. Tiba-tiba hati terpikat, "Oh, mungkin ini seperti yang digambarkan Ustazah Fatimah Syarha dalam novel Tautan Hati tu..". Oh yes, itulah yang saya rasa waktu tu. Macam seronok je, macam best je program-program macam ni. Tiba-tiba ada kakak-kakak yang ***SMS, contact tanya khabar. Eh syok-nya. Oh rindunya zaman itu.

Tapi itu di Semester 3 Tahun Pertama (short sem). Bila masuk tahun kedua, saya 'disibukkan'. 

Ok cukup.

Kembali kepada ziarah PJ, saya tidak sempat memanjangkan leher ke tempat lain. Sekadar berkisar di Mahallah Abu Bakar yang turn out to be Mahallah Khadijah, juga Mahallah Zainab (ZC). Usai program, kami bersolat Zuhur diiringi khutbah dari Masjid Kolej Islam betul-betul di sebelah Mahallah. Nyaman. Rindunya suasana Jumaat di PJ. Pastinya tiada lelaki berkeliaran pada waktu itu, sebab semuanya ke masjid bersolat Jumaat (insyaAllah ta'ala). Dan bersolat jema'ah bersama-sama adik-adik itu juga, syahdu banget. Memang rasa sangat rindu dengan akhawat Kuantan pada waktu tu :') Bukannya tidak bersolat dengan akhawat di Selangor, pernah sahaja. Tapi manakan sama dengan akhawat yang kita dah 'biasa' di Kuantan.

:)

Usai solat Zuhur, lunch 'generation gap' di mahallah Zainab. Kemudian beransur pulang. Adik-adik akhawat Kuantan ke pesta buku di PWTC, saya dan akhawat senpai lain pulang ke rumah.








Dalam perjalanan, saya terbayang sendiri. Sehinggalah sampai ke rumah. Perasaan pergi ke CFS tadi, walaupun sekejap cuma, dan menghadirkan banyak sangat 'throwback', tapi saya dapat rasakan yang saya rindukan juga menjadi Anis yang lama.

Anis di CFS PJ.

Seharusnya, bukan rindu untuk 'tidak ditarbiyyah' pada waktu itu. Naudzubillah. Tapi yang paling terpanggil, adalah rindunya saya menjadi 'diri saya' semata pada waktu itu. Seronoknya menjadi innocent, seronoknya kerana hidup pada waktu itu full, dan yang paling penting lagi, saya rindukan komunikasi pada waktu itu.

Kenapa? Kerana pada saya, untuk diri saya sendiri, jarak masa antara saya di CFS hingga graduasi kini, tidaklah lama. Tapi, zaman saya dan zaman kini tersangatlah banyak berubah.

Masih ingat lagi waktu di PJ, di mana ketika tahun dua hidup saya disibukkan dengan aktiviti kampus, dan bayangkan sahaja untuk setiap kali meeting saya perlu menghantar 2 pages SMS kepada setiap ahli Majlis Tertinggi dan Biro. Dan untuk kes-kes terpencil, call itu adalah perlu. 

Wadah formal hanyalah melalui email. Untuk attached folders dan seumpamanya, juga melalui email. Atau, copy paste dari pendrive. Tiada Dropbox. Tiada Telegram.

Facebook masih baru, tidak famous dan rancak seperti sekarang. Tiada fitnah yang terlalu berleluasa disebabkan FB. Tiada insiden viral. Jauh sekali tragedi screenshots.

Tiada instagram. Tiada selfie, wefie dan seumpamanya. Tak perlu nak upload setiap event untuk semua perkara - hanya untuk menyatakan yang, "I was there.". Tiada apa untuk dibuktikan. Kita tidak hairan lansung dengan kehidupan orang lain, maksudnya, tak perlu menjadi follower atau lebih hebat lagi stalker.

Yang paling terkesan, tiada Whatsapp pada waktu itu. Yes. Tiada.
Tak terbayang rasanya kalau pada zaman Tahun Dua itu punya segalanya. Whatsapp, FB, instagram, Telegram, Dropbox dan sebagainya. Ya Allah - mudahnya!

Untuk wi-fi, waktu itu baru sahaja dirasmikan di semua kampus UIAM. Masih ingat lagi beratur panjang di ITD untuk daftarkan laptop dgn wi-fi. Lajunya? Allah. Se-ciput sahaja. Tapi, sudah cukup bersyukur sekiranya dapat connect di mana-mana. Perlu statik, tidak bergerak. Kadang-kala berebut pula dengan penduduk Mahallah yang lain. Bukan seperti kini, berjalan di bangunan sahaja sudah connected. 

Kalau dikenang kini, terasa masyaAllah macam mana-lah boleh hidup zaman begitu ya?
Tak ter-sangka dapat melaluinya dengan mudah. Dan enjoy.

Kalau dikenang mengenai komunikasi, rasanya cukup beza jika aktif atau tidak, pada zaman itu. Rasanya seperti sentiasa on-call. Jika tiada phone calls, pastinya ada SMS yang masuk. Untuk bertemu, untuk berinteraksi, perlu call atau SMS. Allah. Tidak berkira lansung pada waktu itu. Tidak sukar. Tiada terasa hati dek kerana sudah tick biru tapi tidak berbalas. Tidak menjauh hati sekiranya di-bash dalam group Whatsapp. Tiada rajuk dek kerana ketika kita sibuk-sibuk menaip, si dia sebelah sana bertukar status dari 'Online' kepada 'Last Seen'.

Allah. Sepertinya tiada rajuk 'murahan' seperti itu.

Dan saya rindu itu. Rindukan komunikasi yang, nampak seperti sukar, tetapi lebih mendekati sifat manusiawi.

Waktu tu rasa macam quote, "If you're really matters to them, they will find ways to get connected with you". Cemtuhaa!

Jika dilihat kini, semakin banyaknya wadah berkomunikasi, media sosial whatsoever, tidaklah 'mendekatkan' hubungan sangat pun. Menjadi, untuk-untuk kes tertentu.

Meeting juga sama je.
Respon dalam group, private message (PM) sama je.
Lambat. Takde respon. Hmm.

Walaupun tak dapat dinafikan, membantu juga in a way. Tapi tidaklah mendadak sangat perubahannya.
*pasti ada yang tak puas hati dengan statement ni.lulz :P*


Pasti juga ada yang berkata, "aishhh, mana boleh samakan zaman awak dengan mereka. tak aci. biased!".

Memang. Saya tak bezakan dan compare pun. Cuma, merindui. Rindu dengan zaman get connected pada waktu itu.

:)

Saya pun tak dapat bayangkan gimana kalau semua wadah sosial tadi wujud di zaman saya.
Pasti terbuka segala 'aib' :(
Pasti 'terlepas' segala gambar-gambar :(

Keterlanjuran berkata-kata. Batas-batas pergaulan yang tak sempurna mana. 
Allah. Cukuplah.
Mungkin itu salah satu cara Allah jaga aib kita.

Tak perlu jauh, lihat sahaja Timeline FB kita pada tahun-tahun itu.
Banyaknya posts lagha masyaAllah.
Tapi takpelah, siapa pula rajin nak scroll ke bawah kan? ;p

Moga Allah berkati kita dengan masa, dan tenaga untuk berukhuwwah keranaNya,
dan bukan kerana nama!

huksss!


 ***
instagram merupakan media sosial yang paaaaaling saya minat.
first, sebab berkaitan gambar.
second, sebab erm erm boleh letak caption?

antara reason beli android sebab nak download ig. lulz sangat.
initially, saya lebih prefer blackberry.

dan harini, 4 mei, untuk post yang ke 710 di ig, saya delete account.
ironi sungguh -.-

fyi, ig tiada butang deactivate. yang ada hanya delete account. so once you delete, habislah segala memory kat situ. dan kalau nak sign up balik, tak boleh guna username yang sama.

haa.
selamat tinggal instagram. selamat tinggal 700+ memories yang saya pahatkan kat situ, beserta followers, yang saya berkomunikasi hanya melalui instagram.

:')





goodbye to ig.
FB? erm nanti saya kembali balik, kot!
nak tengok gambar terbaru? latest?
 jom mengopi!
:D





moga ada kebaikan di mana-mana.
moga kita get connected terusssss walau tanpa wadah sosial sekalipun! (well, rabithoh hati kan hado?)

moga Allah balas sebaik-baiknya!


anis.
hululangat.
4mei.


***saya rasa saya berhutang dengan adik-adik saya hat dua ini :(
*eh perasan tak saya tak cakap pasal Twitter? Sebab saya takde account Pengicau :D

*disklemer: entry ini merupakan ruang pandang dan luahan peribadi. saya hormati dan raikan pandangan peribadi anda. aman. takde perang. eh.

Wednesday, April 22, 2015

006. Awak-awak yang kita suka (a)


bismillah.


kadang-kadang tanpa kita sedar, Allah bagi [solusi] melalui orang di sekeliling kita,
Peristiwa-peristiwa yang berlaku di hadapan kita,
Mimpi kita [jarang ok, but tak impossible],

Random people comes and leave,

Passers-by,

Post-post di blog, ig, tumblr, [tak layan twik'er] [fb deactivate sat],

Soalan-soalan random,

Komen-komen yang ter-baca, contohnya ini;






"... yang lain, berserah kepadaNya saja."



Maaf kakak,
Waktu saya tanya ni, saya macam 'keliru' dengan masa depan saya,
Macam 'down' juga dengan kehidupan waktu tu,
But it was 17 weeks ago,
Waktu tu blast komen macam tu je,


But now I know how it feels.

And now I read it with heart and gut.


Alhamdulillah.

Saya masih bersama akhawat.
Jazakillah khair kakak, doa dan harapan kat komen akak yang tak dibaca dengan hati dahulunya, 
amat bermakna kini :')





Ok sesi nak tangkap-leleh [lah konon] skang.

Tengahari dan jurnal tak 'ngam' sangat. Sejak zaman FYP.




USIMKL.

1410hrs.

Tuesday, April 21, 2015

005. 25 tahun.

bismillah.

it was far from my intention to express this.

saya akhirnya 'luahkan' juga 'keterbukaan' saya terhadap soalan feveret semua orang;

"bila kak Anis/Anis nak kahwin?"

belum sebulan lagi menjadi perempuan 25 tahun, dan soalan ini menjadi hangat. ada masa, saya lupakan. ada masa, saya boleh mengelak. banyak masa, saya senyap sahaja. atau membalas dengan senyum, sumbing.

kalaulah saya ada jawapan yang 'tepat', saya akan bagitau jawapannya. tanpa dipinta.
tapi takde buat masa ini. bersabarlah. pasti ada jawapannya, kelak.

walaupun pada september 2018. itu tetap sebuah jawapan. 
tapi itu bukan jawapan saya.
lulz sangat.







saya ter-paling risau kalau 'disapa' begini.
maaf, saya memang tak berminat dan tak berniat nak bagi.



p.s waktu ini memang rasa eh nak kahwin la konfem takde orang kacau eh.



004. April.

Bismillah.

Untuk bulan yang keempat, dan kebetulan entri yang keempat.

Mungkin tak akan 'update' lagi dengan post-post MoTi (motivasi tiga minit) seperti sebelumnya. 
Tapi mungkin dengan pelajaran kehidupan sehari-hari yang boleh saya kutip mutiaranya. Walau tak banyak, tapi insyaAllah bermanfaat. At least untuk diri sendiri. InsyAllah.

Menjadilah Anis, seorang yang kuat jiwa dan hatinya.





"Stay firm and cool."




Friday, March 6, 2015

003. Menunggu siri-7.

bismillah.

orang kata, antara tanda kita serius adalah kita mampu menunggu.

contoh mudah; jika kita serius lapar. kita mampu menunggu ber-jam di sebuah restoran. asalkan perut diisi. dan kita kenyang senang hati.

hmm, kita mampu untuk menunggu lamanya asalkan permintaan kita dipenuhi. ataupun seperti calon spm 2014, mampu untuk menunggu result hampir 3 bulan. sabar menunggu. meletakkan tawakal setinggi langit bahkan lebih, sbg salah satu usaha untuk mendapat yang terbaik.

orang kata.

dan menunggu itu ternyata bukanlah kerja mudah. tidak mudah untuk menanam rasa sabar, mengekalkan rasa qanaah (merasa cukup) sepanjang proses menunggu.

so kalau kita nak tau kita serius atau tak dalam sesuatu perkara, tanyalah diri kita, adakah kita mampu menunggu?

adakah kita sabar menunggu?
berbaloikah?

kalau kita tak mampu untuk menunggu walau seminit, sehari atau seminggu - lupakanlah hasrat itu. lupakanlah hasrat to be a part of the process - waiting.

dan bila kita rasa kita mampu menunggu, menunggu untuk ke peringkat seterusnya, maka teruskan. jangan toleh belakang. jangan rasa menyesal dengan tindakan itu.

bila nafsu untuk toleh belakang dan menyesal itu datang, tepuk diri, katakan pada diri -


"when you are about to give up, ask yourself why you have been holding on at first place."



mantra yang sering diputar-main dalam diri. atau pun ini yang diberi sedikit emosi -



“Some people believe holding on and hanging in there are signs of great strength. However, there are times when it takes much more strength to know when to let go and then do it.”
(Ann Landers)




untuk yang masih tertanya, saya telah mendapat 'jawapan' kepada penantian saya selama ini;







alhamdulillah, masih berpeluang mendapat baucer buku, beli buku tanpa 'rasa bersalah'.
berita baik pagi Jumaat yang barokah!

penantian yang lagi satu tu, masih menanti.
entah bila nak ketemu jawapan-






anis
seri kembangan
baru habis motivasi tiga minit #termotivasi

btw, ini entri ke-700. sebab tu tajuk spesel sikit kihkih

End of Q2 2026

In the name of Allah, the Most Gracious and Most Merciful. Harini tiba-tiba terdetik di fikiran dan hati untuk buka semula emel, beserta blo...